Parenting · Thoughts

Anak sebagai Investasi?

Menjadi media yang mempermudah komunikasi antarmanusia, media sosial memiliki beberapa segi positif yang bisa kita ambil di samping beberapa efek negatif yang mungkin ditimbulkannya. Salah satunya adalah mendorong pembaca untuk mempelajari lebih dalam tentang perihal yang diperoleh dari media sosial tersebut. Kali ini saya ingin membahas tentang ungkapan anak sebagai investasi orang tuanya, anak adalah investasi dunia dan akhirat, banyak anak banyak rejeki, dan sejenisnya yang cukup menarik perhatian saya. Sebelum kita men-judge lebih atau keburu terbawa emosi, kita perlu pahami bahwa pihak-pihak yang mendukung ataupun menolak pemikiran ini memiliki alasan-alasan tersendiri.

Menaruh Harapan Besar

Dalam hidup ini, kita memiliki beberapa peran yang akan kita jalani. Yang sebelumnya pernah menjadi anak, kelak akan menjadi orang tua. Dengan begitu kita dapat berusaha untuk memahami pemikiran orang tua kita yang mungkin berseberangan dengan pemahaman kita. Hampir semua orang tua menginginkan apapun yang terbaik bagi anak-anaknya. Mereka akan melakukan berbagai cara agar anak-anaknya memperoleh pendidikan yang baik, kesehatan yang terjaga, kehidupan yang layak. Mereka menaruh harapan besar kepada anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dibanding dirinya. Apakah orang tua yang menaruh harapan besar kepada anaknya dapat dikatakan salah? Jawabannya adalah tergantung. Tergantung cara yang digunakan oleh orang tua.

Dalam lingkup yang besar, yaitu negara, juga menaruh harapan yang besar kepada generasi-generasi penerus yang diharapkan dapat mempertahankan kemerdekaan Indonesia atau bahkan lebih daripada itu, yaitu memajukan kehidupan Indonesia. Negara berusaha melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal pendidikan, infrastruktur, dan lain-lain demi kemudahan hidup generasi di masa depan.

Memahami Pengertian Investasi

Alangkah baiknya kita menilik terlebih dahulu pengertian dari investasi sebelum membahas ungkapan “anak sebagai investasi”.

Investasi adalah suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan pada masa depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal. – Wikipedia

investasi/in·ves·ta·si/ /invéstasi/ n penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. – KBBI Online

Kalau dilihat dari arti bahasanya, kata investasi memang kurang pas untuk disandingkan dengan kata anak sehingga menimbulkan konotasi bahwa anak adalah sebuah barang atau objek yang digunakan untuk diambil keuntungannya saja. Kata investasi ini memang lebih lekat dengan bidang ekonomi maupun bisnis. Menurut saya, menjadikan anak sebagai sumber tambahan material memang tidak etis. Orang tua menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta rupiah untuk membesarkan anak dan menyekolahkan anak dengan harapan ketika anak sudah memiliki kemampuan untuk bekerja, mereka akan mengembalikan materi (uang) yang orang tua keluarkan untuk membesarkannya. Terdengar sangat salah bukan?

Contoh kasus lain adalah orang tua yang berusaha membesarkan anaknya untuk menjadi seseorang yang berbudi baik dan sukses dengan tujuan agar ia dapat membanggakan orang tuanya dan tidak mempermalukan orang tuanya di hadapan masyrakat. Salah? Belum tentu, tetapi bisa jadi salah. Apakah boleh? Boleh-boleh saja dan bisa diharuskan bagi orang tua untuk membesarkan anak-anak yang berbudi luhur. Namun, alasan yang kita berikan kepada anaklah yang menentukan hal ini berarti baik atau buruk.

Sama halnya dengan contoh sebelumnya, beberapa dari kita ingin menjadikan anaknya seorang ‘alim dalam bidang agama, baik menjadi ulama, hafidz Qur’an, ataupun sejenisnya. Bolehkah? Sangat boleh. Namun, cara dalam berprosesnyalah yang menentukan itu baik atau tidak.

Anak sebagai Investasi Bisa Memiliki Makna Negatif

Dari contoh-contoh yang saya sebutkan sebelumnya, hal-hal baik yang dilakukan orang tua dapat menghadirkan makna yang negatif jika:

1. “Wujudkan mimpi kami!”

Sebenarnya hal yang wajar jika orang tua menginginkan anaknya untuk melanjutkan mimpi-mimpi orang tua yang belum sempat dicapai jika itu memang benar valuable untuk kehidupan anaknya. Namun, hal ini bisa jadi suatu kesalahan jika anak tidak ingin melakukan hal tersebut dan orang tua memilih untuk terus memaksa anak sehingga pada akhirnya anak tidak diberikan hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Contohnya, ada orang tua yang memaksa anaknya untuk menjadi dokter karena sang orang tua tidak mampu menjadi dokter pada masanya. Sedangkan anak memiliki keinginan untuk menjadi seorang technician. Tanpa memberikan pemahaman sedikitpun kepada anak dan tidak pula mendengarkan penjelasan anak akan cita-citanya, anak bisa jadi akan terpaksa melakukan itu semua.

2. “Jangan lupa berterima kasih!”

Ketika anak mencapai umur tertentu, ia perlu paham kewajibannya sebagai anak kepada orang tua, yaitu berbakti kepada orang tua. Namun, beberapa orang tua sering salah paham atau menyalahgunakan kewajiban ini, sehingga beberapa di antaranya menekan anak untuk “membayar” semua pengorbanan orang tua dengan dalih anak sudah sepantasnya berterima kasih kepada orang tua. Pada akhirnya anak bisa memiliki pemikiran bahwa orang tua tidaklah ikhlas dengan semua usaha yang telah dilakukan selama ini.

3. Ingin anak yang baik tanpa berusaha menjadi lebih baik

Sangat disayangkan apabila harapan-harapan baik dari orang tua kepada anak-anaknya tidak dibarengi dengan usaha yang sama oleh orang tua tersebut. Bukan berarti jika kita ingin anak kita menjadi dokter lantas kita perlu menjadi dokter juga sebelumnya. Hal ini lebih kepada sikap dan kepribadian anak. Jikalau kita menginginkan anak yang berbudi baik, tentu kita harus berusaha untuk berbudi baik pula. Jika kita ingin memiliki anak yang tidak mudah putus asa, tentu kita harus pandai menyemangati diri sendiri dan anak-anak kita. Jika kita ingin memiliki anak penghafal Al Qur’an, kita perlu berusaha mempersiapkan diri kita untuk menjadi contoh terdekat. Sehingga proses-proses pada anak untuk menjadi baik juga dibarengi oleh proses orang tua untuk menjadi baik pula.

Makna Positif dari Ungkapan Anak sebagai Investasi

1. Semua ini untuk diri mereka sendiri

Niat baik dan keikhlasan dalam mendidik anak sangat perlu dipahami dan dimiliki oleh setiap orang tua. Misalnya ada orang tua yang menginginkan anaknya untuk menjadi dokter agar kelak bisa membantu meringankan beban orang-orang sakit. Namun, di tengah usahanya menyekolahkan anaknya, ternyata anak memiliki pilihan lain, yaitu untuk menjadi teknisi. Orang tua yang baik adalah memberikan pemahaman yang baik dan menerima serta mendukung apapun pilihan anak asalkan pilihannya adalah pilihan yang baik dari segi sosial maupun agama. Mengapa? Tentu kita tidak akan mendukung anak kita jika mereka ingin jadi pencuri atau penjudi ataupun profesi-profesi yang tidak baik bukan?

2. Anak hanya titipan

Memahami bahwa anak adalah titipan dan amanah akan memperkuat keikhlasan saat membesarkan anak. Tidak dipungkiri bahwa menjadi orang tua adalah suatu peran yang memiliki banyak tantangan pun pengorbanan. Dengan demikian, orang tua akan sadar dan tidak akan memaksakan kehendaknya untuk mengendalikan masa depan anak sepenuhnya.

3. Sisanya itu bonus

Salah satu yang paling banyak diperbincangkan dan dipandang sebelah mata adalah orang tua yang menginginkan anak-anaknya untuk menjadi ‘alim maupun penghafal Al Qur’an. Tentu saja bagi yang tidak memiliki keyakinan yang sama (Islam) dan penilaian yang dangkal, tidak akan paham tentang pemikiran orang tua-orang tua seperti ini. Namun, mereka pun bisa jadi salah kalau tidak memegang niatan yang benar. Di dalam Islam, memiliki anak dan membesarkannya adalah bukanlah hal yang main-main. Semua proses itu akan dipertanggungjawabkan di depan Allah ﷻ.

Jadi, menurut saya, tak ada salahnya jika orang tua berharap kepada Allah ﷻ untuk mengizinkan anaknya memberikan syafa’at atau bantuan di akhirat kelak. Anak yang memiliki kemungkinan untuk memberikan syafa’at tersebut juga bukanlah anak sembarangan, yaitu anak-anak yang mendapat gelar shalih/shalihah di hadapan Allah ﷻ dan prosesnyapun tak akan mudah.

Memahami Peran

Menjadi anak maupun orang tua adalah 2 peran yang memiliki kewajiban dan haknya masing-masing. Orang tua perlu paham kewajiban-kewajibannya dan hak-hak anak. Begitupun sebaliknya. Anak perlu diberikan pemahaman dalam beberapa fase perkembangannya tentang kewajiban-kewajibannya sebagai anak.

Terima Kasih Telah Bersabar Merawat Kami

Jika ada ungkapan yang menyebutkan “Andai anak bisa memilih dari orang tua mana ia dilahirkan” pernahkah anak berpikir ulang dengan kondisi kita saat ini, apakah orang tua kita akan mempertanyakan hal yang sama? Walaupun ada cara maupun sikap dari orang tua kita yang kita anggap kurang benar ketika merawat kita, sebagai anak yang berbakti, tak seharusnya kita menyalahkan mereka terutama di hari-hari tuanya sekarang yang kita yakin mereka pun sudah cukup merasa bersalah karena merasa belum mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita (yang biasanya hanya bersifat kesenangan sesaat) sampai saat ini. Kita perlu berusaha bersikap lebih bijak sebelum menilai cara orang tua membesarkan anak-anaknya.

Referensi:

Anak sebagai Investasi

Anak adalah Amanah, bukan Investasi

Anak Shalih Investasi Dunia Akhirat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s