Thoughts

Memandang Lebih Jauh

Discalimer: Tulisan ini adalah murni opini saya. Diperuntukkan bagi pembaca yang open-minded, sabar, dan tidak pendendam. Ehehe. Kebetulan Pandji Pragiwaksono sudah membahas lebih detail tentang Reuni 212 dalam vlog terbarunya (Kenapa Pandji Ga Ikut Reuni 212) yang sedikit banyak sejalan dengan pemikiran saya. Jadi, kalau ada yang tidak suka sama Pandji karena sebelumnya dia merupakan tim sukses Anies-Sandi yang notabene (dianggap) berkaitan erat dengan Aksi 212 atau hanya karena pernah mendengar Pandji mendukung legalisasi ganja, silakan skip baca. Karena sekali Anda tidak suka dengan sesuatu secara berlebihan, kebaikan apapun yang diberikan akan nihil hasilnya. Chill yak!

Napak tilas Aksi 212 2017

Okay, singkat saja, apa yang ada dipikiran kita ketika disebutkan tentang Aksi 212 2017?

  • Kegiatan/demo yang melibatkan banyak muslim untuk membela agama yang (dianggap) telah dinistakan oleh seseorang/kelompok tertentu.
  • Politisasi agama untuk memenangkan salah satu Cagup DKI Jakarta.
  • Murni kegiatan membela agama Islam.
  • Kegiatan menjatuhkan pemerintahan yang sedang berkuasa.
  • Cikal bakal proses hukum Bapak Ahok karena (dianggap) menista agama

Silakan menambahkan poin-poin yang mungkin belum saya tuliskan jika ada. Jadi, sebagai silent observer, selama ini saya mengamati dan lebih suka berdiskusi behind the stage tentang hal-hal yang cukup sensitif jika dibicarakan secara terang-terangan, walaupun itu hanya sekadar opini. Keadaan yang memanas semenjak PilGub DKI Jakarta membuat saya berpikir, apakah memang separah itukah keadaan kita? Ataukah kita yang mendramatisir keadaan?

Di sini saya tidak akan membahas dari segi politik karena di luar sana banyak orang-orang pintar yang sudah menulis atau bahkan membuat vlog pembahasannya, seperti vlog Pandji Pragiwaksono, GeoTalk with Cania, dan beberapa channel Youtube lainnya.

Oh ya, saya bukanlah simpatisan Aksi 212, tetapi juga bukan yang anti dengan aksi tersebut. Untuk yang tidak suka atau bahkan benci akan aksi tersebut, sedikit banyak saya paham kenapa. Walaupun saya tidak memiliki data eksak yang melampirkan niatan tertulis dari masing-masing orang yang mengikuti aksi tersebut, saya yakin tidak semua orang memiliki niat yang diprasangkakan oleh sebagian orang yang tidak suka dengan aksi tersebut. Ya. Saya juga tidak memungkiri ada orang-orang yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk kepentingan politik. Namun, bisa jadi tak sedikit orang yang memang murni ingin menunjukkan besarnya dan kuatnya ikatan umat muslim di Indonesia. Salahkah? Menurut saya sih itu salah satu bentuk demokrasi. Walaupun saya memiliki pemikiran aksi tersebut tidak perlu dilakukan, toh ini negara demokrasi bukan? Selama tidak membahayakan orang-orang di sekitar, ya sah-sah saja.

“Kamu nggak lihat Ahok dipenjara gara-gara siapa?” “Mayoritas sih. Ya adem ayem aja.” Hmm, honestly saya juga menyayangkan hukuman yang diberikan kepada Pak Ahok karena dasar hukum yang kurang kuat. Namun, saya juga tidak membenarkan apa yang telah dilakukan oleh Pak Ahok karena bhinneka tunggal ika menurut saya adalah mengerti batasan-batasan antarkepercayaan/antaragama. Walaupun ada beberapa orang yang beranggapan mengkritik agama adalah hal yang sah-sah saja jika kita melihat agama sebagai sebuah ideologi (kata Cania dalam review buku An Atheist Muslim). Namun tidak dapat dihindari bahwa reaksi orang akan berbeda-beda akan kejadian tersebut dan tidak ada yang bisa mengendalikannya.

Reuni 212, salahkah?

Satu tahun setelah aksi tersebut, para alumni menginisiasi untuk diadakannya acara reuni 212. Dan sepertinya luka beberapa orang yang masih belum sembuh dan masih belum ikhlas dengan apa yang terjadi tahun lalu, terbuka kembali. Kegiatan ini dijadikan nampak seperti momok bagi beberapa kalangan. Beberapa kalangan ini ada yang didasari karena kepentingan politik, ketakutan akan mayoritas muslim yang mengancam, atau sekadar nggak suka aja. Namun, yang paling nyaring suaranya adalah mengaitkan kegiatan ini dengan politik.

Lantas, perlu nggak sih Reuni 212? Dalam hal ini, bagi mereka yang turun dalam aksi tersebut dan benar-benar murni ingin melakukan pembelaan agama dalam aksi tersebut memiliki dasar dalil tersendiri. Begitu juga dengan muslim lain yang lebih memilih tidak ikut berpartisipasi dalam aksi tersebut. Kalau bicara tentang boleh atau nggak boleh, ya boleh-boleh saja. Kan demokrasi. Mau ada politisasi di dalamnya atau tidak, ya tetap boleh. Itu hak konstitusi mereka. Nah, kalo kita memang menjunjung tinggi Pancasila, hukum, dan demokrasi, ya harusnya sih kita biarkan mereka. Kalau ada yang makar dan melanggar hukum, biarkan aparat yang menyelesaikan. Ehehe.

Ada beberapa kelompok yang juga begitu takut dengan aksi ini karena dianggap mendukung atau menyusung salah satu Capres untuk PilPres 2019 mendatang. Hmm.. Okay. Kecurigaan dan ketakutan kita tidak memiliki dasar yang kuat. Sekali lagi, dengan orang ratusan ribu, we don’t know their really true intention and what they will do next. Mau coblos nomor 1, 2, atau malah golput. Kita juga tidak dibenarkan mengeneralisasi orang-orang yang hadir di sana. Misalnya, 1) “Ini pasti bakal pilih Capres no.xx karena dibayar.” 2) “Pendoktrinan masal nih.” 3)”Orang-orang radikal!” 4)”Seneng ya udah berhasil masukin Ahok ke penjara?!” 5) “Agama belum bener juga. Dibanding demo, belajar kitab dulu sana.” 6) “Kaum-kaum intoleran.” Dan masih banyak lagi kata-kata yang dilontarkan kepada orang-orang yang hadir dalam aksi tersebut.

Geli sih baca tweet dan berita-berita seperti itu. Namun, sekali lagi saya tidak bisa mengontrol semua orang untuk memiliki pemahaman yang sama dengan saya. Saya tentu juga tidak setuju jika ada orang-orang yang hadir di sana kemudian berorasi dengan kata-kata kasar, jorok, dan menjelek-jelekkan pihak lain karena kata-kata “menista” atau “penista” yang sering digaungkan itu terdengar sangat kasar bagi saya. Namun, saya juga tidak membenarkan orang-orang yang membalas dengan kata-kata yang sama buruknya apalagi yang tidak tepat sasaran. Jadi, kita perlu belajar berpikir lebih matang sebelum menilai sesuatu. Belajar kalem dan tidak mudah terprovokasi oleh keadaan. InsyaaAllah hidup kita akan lebih happy karena saya yakin masih banyak rakyat Indonesia di luar sana yang menghormati Indonesia tanpa perlu berkoar-koar dengan kata-kata tidak santun, menyakiti satu sama lain apalagi saling berprasangka.

2 thoughts on “Memandang Lebih Jauh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s