Notions & Thoughts · Opinions · Thought

Tentang Hidup Sederhana

Gita Savitri. Iya. Vlogger yang lagi rising. Saya baru 2 bulan (kalau tidak salah) nge-follow Instagram dan Twitter-nya, tapi lebih sering mengikuti update blognya instead of her vlog. Kadang-kadang aja sih nontonin vlognya. Jujur, awal baca blog Gita dan kemudian merambat subscribe Youtube channelnya saya sempat bersyukur segitunya. “Alhamdulillah. Masih ada anak muda yang ngasih positive influence ke teenagers jaman sekarang.” Mengingat banyak selebgram yang menurut saya memberikan contoh yang kurang baik bagi remaja seumurannya ataupun yang lebih muda. Well, beneran saya bersyukur banget. Namun, di saat yang sama, saya menahan diri untuk tidak meng-adore berlebihan. Saya pernah mendengar nasihat dari seorang ustadz (maaf lupa nama ustadznya dan juga sumbernya), “Jangan mengidolakan atau menjadikan contoh orang yang masih hidup karena fitnah masih bisa menyerangnya. Bisa jadi besok ia menjadi lebih buruk.” Gitu. Intinya jangan berlebihan lah dalam segala hal. Tapi saya tetap bersyukur kok dengan naik daunnya vlogger cantik yang satu ini.

Okay. Jadi, Gita sempat ngetwit tentang opini dia yang intinya tentang ajakan untuk hidup sederhana. Bahkan ia sudah membuat tulisan khusus di blog-nya. Bunyi twitnya seperti ini.

Seperti biasa, saya suka mendiskusikan hal-hal seperti ini bersama suami. It’s interesting topic. Kebanyakan pemikiran Gita mirip dengan pemikiran saya. Bedanya, saya perlu mikir banget sebanget-bangetnya sebelum menyampaikan ke public dan Gita lebih berani untuk speak up. “Bi, ini ada twitnya Gita.” Terus saya bacakan beberapa twitnya. “Nah, tapi kaya’nya ada yang kontra nih.” Kemudian lanjut saya tunjukkan ke suami replies dari twit tersebut. Jadilah kami berdiskusi. Di sini, saya tidak sedang menyalahkan Gita atau repliers-nya karena cara kita menyampaikan pendapat itu berbeda-beda.

Yang pertama, kita tidak bisa tahu persis tentang hidup orang lain. Itu hal yang mutlak kita perlu pahami. Saya pribadi juga tidak jarang automatically judging people. Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa me-manage diri kita sendiri untuk mengolah apa saja yang kita nilai. Saya juga pernah melempar bahan diskusi yang sama dengan twit Gita. “Teman-teman Fit yang tinggal di Jakarta ada yang update IGnya di Starbuck terus. Apa nggak banyak ya expense-nya?” Suami menanggapi, “Ya kalau mereka punya uang itu tidak jadi masalah. Tapi untuk yang nggak punya uang, ya bisa jadi masalah.” Nah, masalahnya kita belum tentu paham keadaan masing-masing orang. 

Yang kedua, ajakan hidup sederhana untuk semua kalangan. Sayangnya, Gita hanya menyoroti kalangan yang mampu mengusahakan uang jajan banyak. Nah, kita nih yang musti memahami twit tersebut dengan lebih teliti dan legowo. Mungkin karena saya merasa bukan termasuk dalam scope yang di-mention, jadinya ya okayokay aja. Namun, tentu ada beberapa orang yang merasa termasuk dalam scope orang-orang mampu yang disebut.

However, hidup sederhana itu ya berlaku untuk semua kalangan. Yang kaya jangan dengan sengaja menunjukkan buang-buang duit di depan orang-orang yang kurang berduit. Yang merasa hidupnya pas-pasan pun musti sabar dalam menghadapi realita. Tidak perlu memaksakan, apalagi sampai berhutang karena gengsi atau ingin saja. Apalagi inginnya terus-terusan. Ehehe. Namun, kalau kita ingin mengukur standar hidup orang lain adalah cukup tricky

Yang ketiga, konsisten mengajak orang untuk melakukan kebaikan, tanpa memaksa ataupun dipaksa. Walaupun kita tidak memiliki kontrol terhadap mengatur kehidupan orang lain, tidak ada salahnya mengingatkan kalau itu kita anggap kurang benar. Namun,yang musti diingat approach kita dalam mengingatkan itu berbeda-beda. Yang jelas tidak boleh memaksa. Nah, bagi yang (merasa) diingatkan, apalagi hanya via broadcast twit, tahan bapernya. Kalau merasa ada yang salah dari diri kita ya diperbaiki. Kalau merasa benar, ya bisa dibilang dengan baik-baik. Yang mengingatkan pun demikian. Jangan memaksa. Apalagi kita sendiri masih banyak kekurangan. 

Dan yang keempat, sederhana itu tidak hanya mencakup materi saja. Sikap kita pun bisa menganut paham kesederhanaan. Mengajak orang untuk hidup sederhana tak melulu dengan kata-kata. Memberi contoh tanpa kata pun kadang lebih mampan. 

Selalu bersyukur dan belajar. 

Selamat hidup sederhana. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s