My faith · Thought

Masih Tentang Cerita di Hari Fitri

Source: Google

Memasuki malam terakhir Ramadhan, yang artinya setelah berbuka puasa kita sudah memasuki bulan Syawal, hal yang biasa kami lakukan adalah mengikuti sidang isbat. Di Indonesia, pemerintah menggunakan metode rukyat untuk menentukan tanggal 1 Syawal. Kegembiraan bercampur kesibukan untuk merayakan esok hari pun memenuhi malam terakhir itu. Kumandang takbir bersahut-sahutan menambah keceriaan. Tak tertinggal suara kembang api dan petasan kecil-kecil yang dimainkan oleh anak-anak di kampung. Namun, tak sedikit pula orang-orang yang masih tertunduk, tenggelam dalam khusyu, berdo’a di sudut-sudut masjid, musholla, atau bahkan di dalam gelapnya kamar. Entah apa saja yang dimohonnya. Yang jelas, Allah-lah yang setia mendengarkan.
Paginya, hampir seluruh umat Islam berkumpul di rumah-rumah Allah dan lapangan-lapangan untuk menunaikan shalat sunnah Idul Fitri. Pagi itu, berbeda dari ceramah-ceramah Idul Fitri yang saya dengarkan beberapa tahun terakhir. Ceramah yang sebenarnya ringan materinya, tetapi syarat makna. Yang ringan materinya, tetapi sering terlupa. Ustadz Madini Farouq membawakannya pun dengan sangat sederhana. Tentang mengingat mati dan menjaga amarah. Tentang memaafkan dan mendo’akan.

Jabir bin Abdillah ra dari Muhammad al Mustafa Shallallahu alaihi wassalam: “Siapa yang membaca doa ini di malam terakhir Ramadhan, ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan: menjumpai Ramadhan mendatang atau pengampunan dan rakhmat Allah.

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau berketetapan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirakhmati bukan yang hampa semata”

Salah satu hadits yang dibacakan beliau. Pagi itu selepas shalat sunnah, semuanya nampak sunyi. Kebanyakan dari jama’ah tetap tertunduk sampai akhir. Beliau mengingatkan tentang usia. Apakah yang baru saja berlalu adalah sebaik-baik Ramadhan kita atau malah yang paling buruk. Kita sering lalai dan melewatkan Ramadhan begitu saja. Menunda-nunda amalan, meremehkan sunnah-sunnah, atau bahkan meninggalkan yang wajib dan tak jarang melakukan yang diharamkan. Atau seringnya kita terlalu terlena untuk merayakan Idul Fitri yang kebanyakan hanyalah mengharap penilaian dari saudara-saudara kita. Semoga kita termasuk dari yang beruntung, yang terhitung menjalankan Ramadhan sebaik mungkin dan lebih-lebih termasuk orang yang mendapatkan Lailatul Qadar.

Poin kedua yang beliau sampaikan adalah tentang menahan amarah. Pentingnya menahan amarah. Begitu seringnya kita marah dan kemudian menyesal setelah meluapkan amarah tersebut. Karena itu, beliau mengingatkan, amarah harus ditahan sekuatnya. Hold your anger and forgive.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah engkau marah”. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau: “Janganlah engkau marah”

Begitu pentingnya untuk menahan amarah. Masih banyak dalil-dalil yang menjelaskan tentang pentingnya menahan amarah. Saya pun masih sulit untuk melakukannya. Yang jelas, setelah marah, penyesalan selalu berada di akhirnya.

Yang terakhir, Ust. Madini Farouq mengingatkan kita untuk selalu berdo’a–mendo’akan orang tua kita dan orang-oramg di sekitar. Cakupan do’a seorang muslim sangatlah luas. Allah Yang Maha Mendengar. Bahkan mendo’akan orang yang tidak kita kenal pun akan Ia dengar. Lebih-lebih akan dikabulkan. Do’akan orang-orang yang masih hidup dan yang sudah berada ke alam kubur. 

Ceramah singkat itupun mendinginkan pikiran kita, manusia-manusia yang terlalu sibuk dengan dunia, manusia-manusia yang sibuk untuk menilai orang lain, manusia-manusia yang sibuk mengeluh, atau manusia-manusia yang sibuk melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya.Semoga kita termasuk hamba yang selalu berusaha untuk memperbaiki diri dan juga memberi manfaat kepada orang-orang sekitar. Allahumma aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s