Life Story

Mudik

Bagi sebagian besar wanita yang telah menikah dan tinggal bersama suaminya, pulang ke rumah orang tua merupakan salah satu momen membahagiakan. Pun ketika ijab qabul telah diikrarkan, kesedihan yang meluap kerap tak tertahankan. Mengingat bahwa ia telah dilepas tanggung jawab oleh bapaknya–berganti kepada sang suami. Untuk saya pribadi, seorang kelahiran Jawa, tinggal bersama suami menjadi suatu kewajiban. Iya. Berpisah dengan kedua orang tua saya dan membangun yang disebut “rumah” baru.

Qadarullah (takdir Allah) telah mempertemukan saya dengan seorang suami dari kota yang berbeda, lumayan jauh. Berjalan menuju tahun ke-2 menikah, diskusi untuk menentukan tujuan tempat mudikpun perlu dilakukan. Di tahun pertama, kami masih merayakan di Korea. Alhamdulillah, tahun ini kami mudik ke Jember–kampung halaman saya.

Setiap kali mudik, setiap tahunnya, tentu ada hal-hal yang berubah dan terasa berbeda. Ramadhan nampak begitu lebih khusyuk dibanding tahun-tahun sebelumnya. Semakin rajin mengaji, i’tikaf, dan shalat berjama’ah. Tidak ada kembang api lagi untuk merayakan malam lebaran. Bapak dan Om yang biasanya membelikan beberapa uang lembarnya untuk petasan dan menyalakannya di malam lebaran untuk menghibur anak-anak kampung, di beberapa tahun terakhir tidak dilakukan lagi. Kami memilih untuk menikmati malam takbir bersama.

Tidak ada keriweuhan membuat kue-kue lebaran di dapur Ibuk. Karena kami, anak-anak Ibuk sudah terlalu sibuk dengan anak-anak kami masing-masing yang tak henti-hentinya berlarian di dalam rumah. Menyusui anak kami yang masih bayi. Jadi, kalau bisa semuanya dihidangkan praktis. Saudara yang datang pun dengan bahagia self service menyantap masakan lebaran Ibuk. Ice cream sajian khas Ibuk juga sudah dihidangkan dalam cup-cup kecil. Tidak perlu repot-repot menyajikan per-scoop dan mencuci gelas setiap kali tamu datang.

Hal lainnya yang berbeda, yaitu kami semakin menyadari bahwa Bapak dan Ibuk semakin tua. Iya. Kami juga. Semakin banyak yang dikeluhkan tentang kesehatan. Sedang kami anak-anak perempuannya hanya bisa menasehati, menyemangati, dan mendo’akan semampu kami. Kami sadar mereka ingin kami berada dekat dengan mereka. Kami pun sebenarnya, kalau bisa, juga ingin stay next to them.

Selama di rumah, Ibuk seperti lupa kalau kami sudah menjadi istri dan ibu seperti beliau. Ibuk sibuk memasak masakan apa saja untuk kami, untuk anak-anak gadisnya yang dulu sangat susah disuruh makan. Suapan Ibuk lah yang membuat kami bisa tumbuh besar seperti sekarang. Tentu Bapak juga punya andil besar. Kalau tak ada Bapak, pastinya tak akan ada santapan-santapan lezat yang terhidang setiap harinya.

Saya suka merantau. Tapi, ketika mudik, rasa-rasanya tidak ingin beranjak lagi. Saya harus sadar, saya memiliki kewajiban yang tak seperti dulu lagi. Sudah ada suami. Walaupun begitu, tak ada yang bisa mengelak kalau saya, kami, anak-anak Bapak Ibuk masih tetap berlaku manja ketika di rumah. Bapak Ibuk pun akan memperlakukan kami tetap seperti anak gadis Bapak Ibuk yang dulu. Lebih-lebih, Bapak Ibuk sangat bahagia karena ditambah 3 menantu, yang mereka anggap sebagai anak laki-laki sendiri, yang pernah mereka harapkan keberadaannya.

Family Portrait : Three Towers

Bapak, Ibuk, kami sayang kalian. Sehat wal’afiat. Semoga Allah memberikan kesempatan kita untuk berkumpul kembali. Di dunia. Di surga.

Ditulis di kereta Ranggajati jurusan Jember- Cirebon. 1 Juli 2017. Untuk keluarga dan saudara-saudara yang selalu kami rindukan.

Advertisements

One thought on “Mudik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s